Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Studi Kasus “Bajaj Bajuri”: Menulis Secara Realistis dan Membumi

“Tulisan non-fiksi adalah mata air tulisan fiksi.” (Herry Nurdi, aktivis FLP dan penulis buku)

Salah satu pelajaran penting yang saya dapat selama nyantri di Aris Nugraha Production (ANP), sebuah writing group di Jakarta sebagai tim kreatif (penulis skenario) sinetron komedi (sitkom) di sebuah stasiun TV swasta nasional (2008) adalah bagaimana membuat dialog yang realistis dan membumi.

Aris Nugraha, sang mentor yang juga bidan sitkom Bajaj Bajuri selalu menekankan– terkadang bahkan “mencela” dengan gayanya yang khas — agar setiap dialog bernas dan sesuai dengan realitas. Seorang rekan pernah disentilnya karena menuliskan dialog wong cilik dengan bahasa Indonesia dan diksi yang baku persis guru bahasa Indonesia di zaman SMP.

“Masak tukang becak ngomongnya filosofis banget!” semprotnya. “Yang realistislah!”

Kami tersenyum melihat wajah rekan itu yang merah padam karena malu. Beliau memang begitu, lugas tapi juga lucu. Terlebih lagi suka berbagi ilmu.

Ada satu trik jitu darinya agar kalimat atau dialog realistis. Lafalkan atau ucapkan dengan suara keras dialog tersebut secara berulang-ulang. Lalu rasakan dengan hati dan telinga. Janggal tidak terdengar di telinga? Cukup riilkah dengan konteks kalimat dan situasi? Tips sederhana yang sebenarnya manjur untuk jenis penulisan lain selain skenario. Yah, realistis.

Itu juga kunci yang, menurut Mas Aris, merupakan kunci kesuksesan sitkom masterpiece-nya, Bajaj Bajuri. Suatu realitas pengemudi bajaj yang lekat dengan keseharian kita. Yang membuat kita sebagai penonton merasa dekat bahkan mengidentifikasikan diri dengan si Bajuri.

Yah, realistis. Itu yang kadang kita lupa. Realistis bukan hanya soal dialog atau kalimat. Realistis juga soal kesesuaian dengan konteks sikon.

Sewaktu SD, sebuah karangan saya luput dapat nilai tertinggi di kelas hanya karena satu kalimat: “Setiap pagi nelayan berangkat melaut”.

Saya lupa realitas bahwa pekerjaan nelayan tidaklah sama dengan orang kantoran yang berangkat tiap pagi. Nelayan justru berangkat kerja setiap petang jelang malam. Tapi, di banyak pelatihan dan di banyak milis, kesalahan sejenis yang “sepele” masih saja saya temui meski zaman SD dulu masih era 1980-an.

Saya teringat memori puluhan tahun lalu itu ketika baru-baru ini membantu kawan menerjemahkan sebuah novelet. Dalam novelet tersebut sang penulis memberi nama tokoh-tokohnya dengan nama “Reva”, “Shierly” dan “Ricky”. Setting-nya di kota metropolitankah? Tidak, setting-nya adalah sebuah desa terpencil di pedalaman Bengkulu. Ah, aroma sinetron yang kental sekali!

Realistis juga bicara soal pengayaan jiwa dan tulisan kita. Ada satu milyar lebih tulisan tentang anak SMP yang berkisah soal cinta. Seakan dunia ini hanya hidup dan dihidupi dengan cinta. Pemahaman yang realistislah yang membuat suatu kisah cinta yang klasik lebih terasa “dekat” dan “membumi”.

Ada kasus narkoba, korupsi, trafficking (perdagangan anak dan perempuan) dll yang ada di depan kita, yang kadang luput kita tangkap hanya karena kita asyik masyuk berfantasi di dunia mimpi.

Mimpi yang seragam, dan mimpi yang sempurna. Kita takut dengan realitas di depan kita, dan menjadikan tulisan sebagai pelarian. Tanpa disadari, ia masuk ke dalam jiwa dan luber dalam tulisan. Sehingga tak jarang kita menjumpai tulisan yang “autis”, asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan tak realistis.

Barangkali obatnya adalah mencari air penyembuh di mata air abadi, seperti dalam dongeng. Seperti kata Herry Nurdi yang juga wartawan SABILI bahwa tulisan nonfiksi adalah mata air bagi tulisan fiksi, cara termudah adalah menuliskan observasi dan renungan kita atas pengalaman sehari-hari dan berbagi dengan orang lain. Setidaknya ada pahala shodaqoh yang didapat. Syukur-syukur kritik dan masukan. Bahkan, dalam sebuah komunitas, berlimpahnya teman adalah berkah tersendiri dari berbagi cerita pengalaman.

Haramkah menulis fiksi? Tidak. Namun, sebaiknya belajarlah langsung dari sumber, dari mata air abadi. Ia dekat dengan kita. Ia ada di genggaman kita. Jika mata air sudah berlimpah, tulisan apapun sebagai muara akan memperoleh berkah juga dari kemakmuran sang mata air. Karena realistis, karena membumi, adalah hal pertama dalam hidup seorang manusia yang beradab. Bukankah pelajaran pertama Nabi Adam adalah ketika Tuhan mengajarkannya nama-nama benda (baca: observasi)?

Sekadar saran, mari belajar menulis diary sebelum menulis fiksi. Jika tidak setuju, anggap saja ini sebuah rekomendasi. Atau coba lihat ke sudut lain, dan baca lagi seruan tadi. Maka ia akan terbaca sebagai: Yuk membumi!

Sumber foto: wikipedia & http://www.ceritamu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.